Gulo Puan, Kudapan Bangsawan Palembang

Dahulu kala pada zaman kesultanan, kudapan dengan rasa manis ini adalah kudapan untuk para bangsawan dan warisan raja-raja Kesultanan Palembang Darussalam. Seiring berkembangnya waktu, gulo puan juga menjadi kudapan khas bagi masyarakat Palembang. Bahan utama gulo puan diolah dari susu kerbau rawa pedesaan yang berada di kawasan rawa-rawa Sumatra Selatan khususnya daerah Pampangan, Ogan Komering Ilir.

Dalam bahasa daerah Sumatera Selatan, gulo berarti gula susu dan puan berarti susu, maka sesuai bahan dasarnya, gulo puan berarti gula susu. Proses pembuatan gulo puan memiliki kemiripan seperti memasak kue caramel. Bedanya, kue karamel menggunakan gula putih, sedangkan gulo puan meggunakan gula merah.

Dengan bahan berupa susu dan gula merah, gulo puan pun dimasak dengan api sedang selama kurang lebih lima jam. Saat sedang dimasak, gulo puan harus selalu diaduk hingga menggumpal dan berwarna kecokelatan menyerupai abon sapi. Cara pembuatan yang rumit dan memakan waktu yang lama, membuat kudapan yang gurih dan legit ini hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan pada zaman itu.

Gulo puan salah satu kudapan khas Palembang | Foto: Viva.co.id

Konon, di zaman kesultanan, gulo puan merupakan kegemaran para bangsawan Palembang. Diolah dari susu kerbau rawa di pedesaan di kawasan rawa-rawa Sumatera Selatan, makanan pelengkap ini merupakan kekayaan rasa yang hadir dari kekayaan alam Sumatera Selatan. Keberadaannya saat ini terbilang langka.

Puan berarti ’susu’ dalam bahasa daerah Sumatera Selatan (Sumsel). Gulo puan bisa diartikan ’gula susu’ sesuai bahan dasarnya, yaitu gula dan susu yang dibuat menjadi sejenis karamel. Teksturnya lembut sedikit berpasir dengan warna coklat. Gulo puan yang rasanya mirip keju manis itu sangat sedap untuk campuran minum kopi atau olesan roti dan pisang goreng.

Sajian gulo puan bersama pisang goreng | Foto: Urban Id

Tak mudah memperolehnya. Penganan yang diolah secara tradisional ini hanya dijual oleh beberapa pedagang kaki lima di waktu tertentu saja, yaitu sekitar waktu shalat Jumat di Masjid Agung Kota Palembang. Kadang kala makanan ini juga dijual di Pasar 26 Ilir Palembang pada Sabtu dan Minggu dengan harga sekitar Rp 100.000 per kilogram (kg).

Biasanya, gulo puan dijual oleh para pedagang kaki lima dengan harga yang cukup mahal, yaitu Rp100.000 untuk setiap kilogramnya. Hal tersebut cukup wajar jika dilihat dari keberadaan gulo puan yang sudah mulai susah untuk temui. Pembuatan gulo puan ini bergantung pada peternakan kerbau rawa di Pulo Layang. Pada 2015, terdapat sekitar 500 kerbau rawa di desa itu.

Saat musim hujan, produksi susu pun tinggi dengan setiap kerbau rawa yang menyusui dapat menghasilkan 1,5 hingga 2 liter susu. Kondisi tersebut didorong oleh melimpahnya pakan saat rawa-rawa kembali tergenang. Namun, di musim kemarau, hasil susu turun karena rawa menyusut sehingga pakan juga berkurang. Akibatnya, harga gulo puan lebih mahal saat kemarau, yaitu sekitar Rp70.000 per kilogram dan saat musim hujan, harga gulo puan di tingkat perajin Rp60.000 per kilogram. Selain mengawetkan susu kerbau, usaha gulo puan juga menambah nilai jual susu kerbau yang hanya Rp15.000 sampai Rp20.000 per liter dalam bentuk segar.

Potret kerbau rawa Pampangan | Foto: mongabay.co.id

Menurut penelitian, susu kerbau rawa di Sumatera Selatan mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada susu sapi pada umumnya. Kandungan protein inilah yang membuat susu kerbau rawa dapat diolah menjadi gulo puan.

Kini, bahan baku dari kudapan yang hanya dapat ditemui di Palembang ini sudah hamper punah. Pasalnya, kerbau rawa sebagai hewan asli Indonesia sudah semakin berkurang keberadaannya akibat kebakaran hutan pada tahun 2014-2015 lalu. Dengan begitu, pembuatan gulo puan juga tidak dapat dilakukan setiap hari mengingat jumlah kerbau rawa Pampangan yang hampir punah.

 

Terima kasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat..

admin