Ikan Belido (Chitala lopis)

Kota Palembang tidak hanya dikenal dengan jembatan Ampera, tapi juga pempek. Kuliner khas Bumi Sriwijaya ini terbuat dari ikan belida/belido. Nama ikan ini sendiri diambil dari nama salah satu sungai di Sumatera Selatan yang menjadi habitatnya. Yuk, simak lebih jauh tentang ikan ini.

Ikan lopis merupakan jenis ikan sungai yang tergolong dalam suku Notopteridae (ikan berpunggung pisau). Ikan berpunggung ‘pisau’ ini memiliki nama yang berbeda di berbagai daerah. Ikan ini lebih populer dengan nama ikan belida/belido, yang diambil dari nama salah satu sungai di Sumatra Selatan yang menjadi habitatnya. Orang Banjar menyebutnya ikan pipih. Jenis ini dapat ditemui di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Semenanjung Malaya, meskipun sekarang sudah sulit ditangkap karena rusaknya mutu sungai dan penangkapan.

lopis

Secara morfologi, ikan belida dewasa mempunyai bobot 1,5 – 7 kg. Dikutip dari Laporan Teknis Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Departemen Kelautan dan Perikanan (2009), ikan belida memiliki ciri-ciri badan pipih dan memanjang dengan bagian punggung yang tampak mencembung. Bagian perutnya berduri ganda dengan bagian ekor yang juga memanjang. Ukuran sisik kecil, berbentuk sikloid, pada samping badan membentuk gurat sisi. Kepalanya bersisik, lubang hidung depan berbentuk tabung, tidak tertutup insang bawah.

Ikan belida memiliki bukaan mulut lebar, dibatasi rahang atas depan dan rahang atas. Rahang atas memanjang sampai bawah atau belakang mata. Gigi terdapat pada rahang atas depan, rahang atas, rahang bawah, tulang mata bajak (vomer), tulang langit-langit (palatine) dan lidah. Sirip punggung kecil, terletak kira-kira direntang pertengahan sirip dubur yang bersatu dengan sirip ekor. Sirip perut yang bersatu pada dasarnya kecil (rudiment).

Ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sering digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan makanan khas daerah seperti empek-empek, kerupuk, kemplang, dan bahan pangan yang lain. Tampilannya yang unik juga membuatnya diminati penghobi untuk dipelihara di akuarium sebagai ikan hias. Namun demikian, aktivitas penangkapan ikan berlebih (over fishing), penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan perubahan kondisi lingkungan perairan menyebabkan kelestarian jenis ikan ini menjadi terancam (Pollnac & Malvestuto, 1991). Bahkan dalam penelusuran Suwejo et al. (1986), ikan belida sudah termasuk ikan air tawar yang dilindungi.

belido

Menilik potensinya yang besar khususnya bagi masyarakat Palembang serta populasinya yang mulai sulit ditemukan di alam, tidak heran jika ikan belida ditetapkan sebagai maskot fauna Sumatera Selatan oleh pemerintah daerah setempat. Untuk mengabadikan ikan langka tersebut, pemda setempat juga membuat sebuah tugu yang disebut sebagai “Tugu Iwak Belido”.  Tugu Iwak Belido ini diharapkan akan menarik perhatian masyarakat serta para tamu asing yang datang berkunjung ke kota Palembang.

Segitu saja artikel kita kali ini, semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu. Tunggu artikel kita berikutnya yaa… jangan lupa dishare :)

admin