4 Masjid Tertua di Palembang

Wisata religi di kota Palembang rasanya belum lengkap kalau belum mengunjungi 4 masjid tertua di kota ini. Apa saja? Berikut kita jabarkan beserta sejarah singkatnya..

1. Masjid Agung

Masjid Agung Palembang atau disebut juga Masjid sultan Mahmud Baddaruddin I merupakan masjid terbesar yang ada di kota Palembang, dengan luas lahan seluas kurang lebih 15.400 M2. Masjid Agung ini didirikan oleh Sultan Mahmud Baddaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (tahun 1724-1758). Peletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senin tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung Paelmbang Terdapat dua bangunan utama. Sementara bangunan yang asli merupakan bangunan lama yang masih dipertahankan sejak awal pendirian. Sedangkan bangunan yang lainnya merupakan bangunan baru dan sudah beberapa kali dipugar untuk diperluas akibat pertambahan jumlah jamaah.

Masjid Agung Palembang.

Masjid Agung Palembang .

Masjid Agung Palembang

Arsitektur Masjid ini dipengaruhi oleh tiga kebudayaan, Indonesia (Melayu), China dan Eropa. Gaya arsitektur inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari masjid ini. Pengaruh gaya arsitektur China bisa dilihat dari masjid utama yang atapnya seperti kelenteng. Puncak Masjid Agung berbentuk atap mustaka/kepala.Bentuk mustaka yang terjurai ini melengkung ke atas keempat ujungnya yang berhiaskan simbar menyerupai bentuk atap pada bangunan China. Sedangkan gaya arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk di gedung baru masjid yang besar dan tinggi. Unsur dekoratif banyak terdapat di dalam masjid seperti ornament khas Palembang yang cukup kental dengan ukiran kaligrafi maupun sulur tanaman dicampur dengan perpaduan warna emas dan coklat, seperti penerapa pada:

Tiang, disetaip tiang terdapat banyak hiasan pada bagian kaki berhiaskan berbentuk pelepit sementar pada bagian atas tiang terdapat hiasan motif kotak dengan pelipit setengah lingkaran.

Mimbar, di mimbar tangga berhiaskan kotak-kotak dengan lubang kecil di tengahnya yang berwarna emas. Dua buah tiang persegi empat pada mimbar, berwarna coklat dengan hiasan bunga dan sulur. Bagian atas tiang berbentuk melengkung dan berhiaskan simbar yang distilir dengan bunga.

2. Masjid Kiai Muara Ogan

Masjid Kiai Muara Ogan juga merupakan salah satu masjid tertua di Palembang, Sumatera Selatan. Terletak di anak sungai Musi, Kertapati Palembang. Masjid ini didirikan pada tahun 1870 semasa penjajahan Belanda. Penamaan masjid ini sendiri diambil dari nama julukan ulama besar Palembang yaitu Masagus Abdul Hamid bin Mahmud atau lebih dikenal dengan julukan Ki Merogan.

Masjid Ki Merogan .

Masjid Muara Ogan Palembang .

Masjid Merogan Palembang

Pada waktu Kiai Merogan lahir (1802), kesultanan Palembang sedang dalam peperangan yang sengit dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kiai Merogan dilahirkan oleh seorang ibu bernama Perawati yang keturunan China dan ayah yang ebrnama Masagus H MAhmud alias Kanang, keturunan Ningrat. Pada masa penjajahan Belanda, Kiai Merogan terkenal gigih memperjuangkan Islam di kota Palembang. sebagai penguasa sukses, pada tahun 1871 M, Kiai Merogan mendirikan masjid di lokasi pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Ogan. Mesjid Ki Merogan yang semua milik pribadi, lalu diwakafkan pada tanggal 6 Syawal 1310 H.

3. Masjid Lawang Kidul

Berkunjung ke masjid ini terasa terlempar kembali ke masa perkembangan Islam di Paelmbang. Masjid Lawang Kidul termasuk salah satu masjid tertua di Paelmbang, Sumatera Selatan. Masjid ini berdiri pada tahun 1890 dan memegang peran penting baik sebagai pusat penyebaran Islam maupun dijadikan markas para pejuang setempat pada masanya. Material masjid ini terbuat dari campuran batu kapur dengan putih telur dan pasir, sehingga membuat masjid ini dapat bertahan dengan lama. Menurut Informasi bangunan induk masjid ini sebagian besar tetap terjaga keasliannya dan hampir 99% masih merupakan bangunan asli dan belum ada yang diganti.

Masjid Lawang Kidul .

Masjid Lawang Kidul Palembang .

MAsjid Lawang Kidul Palembang

Masjid Lawang Kidul sangat identik dengan Masjid Kai Merogan karena memang bsama-sama dibangun oleh Kiai Merogan di era yang nyaris bersamaan. Masjid Lawang Kidul ini berada di tepian Sungai Musi, dikawasan kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur I, kota Palembang. Lokasinya persis bersebelahan dengan Kawasan Pelabuhan Boom Baru, pelabuhan tua di tepian Sungai Musi di kota Palembang yang masih berfungsi hingga kini, tidak jauh dari pasar Kuto.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya dengan masjid Agung Demak. Kemiripan arsitektur masjid di wilayah kesultanan Palembang dengan bentuk Masjid Demak dapat dimaklumi karena memang dibangun setelah masjid Demak dan kenyataan sejarah pun menunjukkan keterikatan yang kuat antara muslim Palembang dengan kesultanan Demak, mengingat bahwa Raden Fatah,  selaku Sultan pertama di kesultanan Demak adalah putra Prabu Brawijaya dari Majapahit yang lahir dan besar di Palembang.

Meski demikian. Masjid-masjid tua di Palembang memiliki ciri khasnya sendiri terutama pada bagian atapnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki penampilan mirip dengan atap bangunan kelenteng. Ornamen seperti tanduk atau seperti taji atau duri menjadi ciri khas bangunan atapnya dengan jumlah rata-rata 12 buah di masing-masing sisi. Ornamen khas Palembang juga ditemukan dibagian lisplang atau sisi bawah bagian ujung atap, dan bagian bawah atap tertinggi yang ditutup seluruhnya dengan kayu membuat susunan atap teratas masjid ini sebagai sebuah kubah utuh.

4. Masjid Al-Mahmudiyah Suro

Masjid Al-Mahmudiyah atau lebih populer dengan sebutan Masjid Suro, adalah salah satu masjid yang masuk dalam cagar budaya karena nilai-nilai sejarah yang terkandung padanya. Masjid yang berada persis dipertigaan jalan Kirangga Wira Sentika dan Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II ini merupakan salah satu masjid tertua di Palembang. Masjid ini didirikan pada tahun 1893 oleh K.H.Abdurrahman Delamat bin Syarifuddin bersama dengan sahabatnya Kiai Ki Agus H Mahmud Usman dan sudah berumur lebih dari 100 tahun.

Masjid Suro .

Masjid Suro Palembang

Masjid ini dibangun oleg seorang ulama besar, Ki Haji Abdurahman Delamat di atas tanah Wakaf milik Ki Kgs H Khotib Mahmud dan selesai dibangun 1889 (1310H). Masjid unik dengan ciri khas melayu ini, awalnya sering disebut dengan nama Masjid Suro. Lalu Kiagus H.Matjik Rosad, cucu dari Kiagus H Khotib Mahmud mengusulkan nama Al-Mahmudiyah, hingga akhirnya jadilah nama al-Mahmudiyah. Tak seperti masjid-masjid masa kini yang dibangun semegah dan semewah mungkin, Masjid Suro masih tetap tampak klasik dan tradisional dengan atap layaknya bangunan rumah-rumah penduduk.

Demikian 4 Masjid tertua di Kota Palembang yang kami rangkum dari berbagai sumber, semoga bermanfaat ya :)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>